Selasa, 29 November 2011

CARA BETERNAK MERPATI

        Merpati setelah melakukan perkawinan, maka akan bertelor. Telor burung merpati rata-rata 2 butir, yang selanjutnya dierami oleh induk jantan dan betnanya secara bergantian. lama pengeraman kurang lebih 18 hari selanjutnya telur mulai menetas dan mengeluarkan anak merpati yang kita sering kenal dengan nama piyik. yang selanjutnya diberi makanan oleh induk betina dan jantan secara bergantian sampai piyik tersebut bisa mencari makanan sendiri. Setelah anak merpati bisa mencari makanan sendiri dan bisa terbang harus dipisahkan dari induknya supaya induknya bertelur lagi.
       Anak merpati yang sudah terbang, maka lama - kelamaan akan semakin dewasa sehingga siap untuk mencari pasangannya. Dalam pmeliharaan merpati diharapkan diberi ruang untuk terbang supaya merpati bisa tumbuh sehat. Selain itu juga merpati akan jinak dan tidak akan hilang jika dilepaskan begitu saja, karena merpati mempunyai naluri sebagai binatang yang jinak dan akan kembali lagi di kandangnya.

KEHIDUPAN MERPATI

KEHIDUPAN MERPATI

       Merpati merupakan hewan yang hidup berkelompok dan berpasang-pasangan. Pada umumnya merpati hidup pada ketinggian 1000 -2000 mdpl.Biasanya pada usia 7 bulan merpati sudah mulai mencari pasangannya.
       Merpati jantan mempunyai ciri-ciri yaitu tubuh, kepala lebih besar dari betina, serta mempunyai warna yang mengkilap serta mempunyai suara yang besar dan sangat agresif apabila ada betina. Sedangkan merpati betina memiliki ciri-ciri tubuh dan kepala lebih kecil dari pada betina dan lebih lambat atau kurang agresif.
        Perkawinan merpati dipengaruhi oleh lingkungan seperti  iklim, jenis makanan, curah hujan, sinar matahari.Menjelang musim kawin, merpati jantan mempunyai bunyi yang besar sambil mengangguk-nganggukkan kepala dan mengembangkan serta merenggangkan bulu ekornya.membuntuti betinanya, temboloknya membesar, keduanya akan melakukan cumbuan dengan cara menggeserkan paruhnya dan selanjutnya melakukan perkawinan

APA SIH MERPATI>>>>>>>>>>

ARTI MERPATI

         Merpati sering kita kenal dengan nama burung dara. Kata merpati diambil dari bahasa sansekerta "mharyapati". Dalam bahasa latin disebut Columbia livia.Merpati merupakan bangsa burung yang memiliki ciri-ciri  seperti burung pada umumnya. Ciri-ciri burung merpati yaitu mempunyai bulu dan mempunyai sayap untuk terbang.Kakinya ditutupi kulit tanduk.
        Merpati merupakan hewan berdarah panas yang dapat menyesuaikan diri terhadap suhu lingkungan. Merpati mempunyai penglihatan dan pendengaran yang tajam serta mempunyai naluri untuk melindungi telur dan anaknya. Merpati juga baik betina maupun jantan bergotong royong untuk mengerami telurnya sampai menetas bahkan dalam mencari makanpun, mereka bergotong royong untuk memberi pakan kepada anaknya.
       Bagian tubuh merpati diantaranya Kepala, leher tubuh dan anggota tubuh. Anggota tubuh terdiri atas paruh, sayap, bulu, kaki dan kuku. Pada pangkal paruh yang menonjol disebut sora.

Rabu, 21 September 2011

Memasyarakatkan Merpati Pedaging

Memasyarakatkan Merpati Pedaging

Jangan terlalu memandang tinggi merpati. Unggas ini memang memiliki nilai jual tinggi, terutama merpati balap, merpati tinggian, dan merpati pos. Tetapi jika modal Anda pas-pasan, dan ingin perputaran uang dengan segera, beternak merpati pedaging pun bisa memberi keuntungan yang lumayan.

PEMELIHARAAN merpati (Columba livia) di Indonesia terbagi dalam dua kelompok. Pertama, mereka yang memeliharannya sebagai unggas kesayangan, baik sebagai merpati balap, merpati tinggian, maupun merpati pos. Kedua, mereka yang sengaja memeliharanya untuk tujuan komersial, dalam hal ini peternak.

Termasuk dalam kelompok kedua antara lain peternak merpati balap, merpati tinggian, dan merpati pos. Lalu, di manakah posisi peternak merpati pedaging ? Sebenarnya mereka termasuk dalam kelompok kedua, tetapi jumlahnya masih belum seberapa.

Sampai sejauh ini belum banyak peternak merpati pedaging. Kalau di sejumlah restoran, warung makan, maupun warung tenda di pinggir jalan menyajikan menu dara goreng, sebagian besar bahan bakunya berasal dari merpati afkiran. Merpati afkiran adalah merpati yang sudah tua.

Di AS, merpati muda (25-30 hari) atau dikenal sebagai squab menjadi salah satu menu favorit.

Dagingnya lunak dan enak. Daging merpati mengandung zat-zat gizi yang lengkap dan tinggi. Apabila sudah populer, diharapkan dapat menjadi substitusi dalam pemenuhan kebutuhan daging di Indonesia, khususnya daging ayam, sapi, dan kambing.

Ras Pedaging

Tidak sulit beternak merpati pedaging. Siklus reproduksinya yang singkat, yakni 35 hari, membuat usaha beternak merpati bisa berkembang biak dengan cepat.

Artinya, induk betina mampu menghasilkan keturunan setiap 35 hari sekali. Dalam setahun, sepasang merpati mampu menghasilkan keturunan hingga 10 kali, dengan jumlah anak rata-rata dua ekor.

Sebenarnya semua jenis/ras merpati bisa dijadikan merpati potong. Yang menjadi persoalan adalah kualitas rasa, tekstur daging, dan laju pertumbuhan bobot badan.

Jika ingin beternak, idealnya memilih merpati dari ras pedaging, seperti king, carneau, mondaine, giant homer, dan homer king. Jenis yang disebut terakhir inilah yang terpopuler di Indonesia.

Merpati king dewasa memiliki bobot standar sekitar 742-857 gram (gr), sedangkan merpati remaja (muda) sekitar 686-780 gr. Namun berat potong ideal sekitar 500-700 gram, dengan lama pemeliharaan sekitar 45-60 hari.

Otot dada besar, tebal, dan rasanya sangat lezat. Itu sebabnya, merpati king sangat digemari konsumen di luar negeri.
Ada beberapa varietas warna bulu, misalnya biru, merah, dan kuning. Hampir semua varietas memiliki ukuran tubuh yang sama.

Meski namanya giant homer, postur tubuhnya justru lebih kecil daripada ras-ras merpati pedaging lainnya. Tetapi justru karena itulah masyarakat menggemarinya.

Apalagi rasa dagingnya juga lezat. Belakangan, merpati king dan giant homer disilangkan, sehingga menghasilkan ras baru bernama homer king. Ras inilah yang banyak dipelihara di Indonesia.

Perkandangan

Kandang untuk peternakan merpati dibedakan menjadi tiga, yaitu kandang jodoh (khusus penjodohan hingga mengasuh anak), kandang pembesaran, dan kandang karantina (untuk merpati sakit).

Kandang pembesaran digunakan saat merpati lepas masa sapih dari induknya.
Fase ini bisa dimulai dari umur 15 hari hingga masa panen (45-60 hari).

Kandang bersifat koloni, artinya untuk memelihara beberapa ekor sekaligus. Konstruksi kandangnya sama dengan kandang puyuh, tetapi dibuat lebih tinggi (75 cm).

Karena merpati sudah bisa terbang, usahakan bagian atapnya dibuat dari bahan yang lentur, misalnya kassa dari nilon.
Kandang berukuran 100 x 100 cm2 dapat menampung 20-25 ekor merpati hingga masa panen.

Untuk menghemat lahan, kandang disusun bertingkat, berjajar, dan saling memunggungi, seperti pada kandang ayam petelur. Kandang terbawah diberi kaki setinggi 50 cm, agar terbebas dari genangan air. Semua kandang ini berada di bawah naungan kandang induk, yang memiliki atap, pelindung dari angin dan air hujan.

Pemeliharaan

Bagian tersulit dalam pemeliharaan merpati adalah menangani piyik-piyik. Tiga hari pertama setelah menetas, piyik hanya mendapat asupan susu tembolok dari induk jantan dan betina. Se-telah itu, kedua induk bergiliran memberi makan anaknya dengan meloloh.

Secara alami, masa meloloh ini akan berlangsung 6-7 minggu. Tetapi kita bisa mempercepatnya mulai umur 15 hari, agar induk cepat bertelur lagi. Dengan demikian, peternak harus meloloh piyik-piyik tersebut, setidaknya sampai berumur 1 bulan.

Jika jumlah piyik sedikit, kita bisa melolohkan dengan mendekatkan pakan yang lembut ke mulut piyik. Tapi jika jumlahnya banyak, pekerjaan ini tentu merepotkan.

Solusinya, bisa menggunakan spuit dan selang berisi pakan yang dilembutkan, lalu dimasukkan ke mulut piyik hingga temboloknya penuh. Frekuensi pemberian pakan sekitar 3-4 kali/hari.

Pada umur 1 bulan sampai masa panen (2 bulan), merpati sudah bisa makan sendiri. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari. Usahakan pakan habis dalam waktu 30-60 menit, agar tak menimbulkan bau busuk yang bisa mengundang kuman penyakit (bakteri, virus, jamur, dll).

Yang terpenting adalah susunan ransum dan porsi pemberian pakan. Pakan merpati bisa dibuat dari bahan jagung kuning (50 %), gandum (34 %), je-wawut (9 %), kacang tanah (5 %) dan beras (2 %). Bahan-bahan itu diramu dalam bentuk butiran pecah.

Khusus untuk piyik, bahan pakan mesti dilembutkan dengan air matang, sehingga menjadi bubur. Dengan pemeliharaan yang benar, bobot badan homer king yang berumur 45-60 hari dapat mencapai 600-700 gram, serta sudah bisa dijual. Dengan umur yang masih muda, tentu dagingnya lebih empuk dan gurih.

Selasa, 20 September 2011

Ternak Merpati Potong, Jarang Pemainnya

Ternak Merpati Potong, Jarang Pemainnya
Senin, 18/10/2010 | 10:57 WIB
Burung dara atau merpati memang memiliki nilai jual tinggi, terutama merpati balap, merpati tinggian, dan merpati pos. Tetapi jika modal Anda pas-pasan, dan ingin perputaran uang dengan segera, beternak merpati potong pun bisa memberi keuntungan yang lumayan.

Bagi yang gemar dengan kuliner, tentu akan ingat lesehan-lesehan atau warung makan di pinggir jalan yang menyajikan menu sambal atau penyetan. Salah satu menu yang ditawarkan adalah merpati goreng. Kalau yang dipotong piyik (squab) tentu tak jadi masalah, akan tetapi kalau yang dipotong merpati balap tua dan afkir tentu menjadi masalah.
Di AS, merpati muda (25-30 hari) atau dikenal sebagai squab menjadi salah satu menu favorit. Dagingnya lunak dan enak. Daging merpati mengandung zat-zat gizi yang lengkap dan tinggi. Apabila sudah populer, diharapkan dapat menjadi substitusi dalam pemenuhan kebutuhan daging di Indonesia, khususnya daging ayam, sapi, dan kambing.
Permintaan yang terus mengalir adalah sebuah peluang yang belum banyak dibaca orang. Sungguh sangat sayang kalau peluang ini terlewatkan begitu saja hanya karena pasokan yang belum mencukupi. Merpati potong tetap menjanjikan peluang dan keuntungan walaupun penjualannya masih di tempat-tempat tertentu karena harganya yang masih tinggi. Tapi perlu diingat, peluang baru dengan sedikit ‘pemain’ yang menekuni, kemungkinan peluang berhasil sangat tinggi.
Pengepul merpati potong asal Ungaran, Kabupaten Semarang, Supratno menyebutkan, permintaan merpati potong di pihaknya berkisar 70 sampai 200 ekor per hari. Permintaan itu tak hanya datang dari wilayah Semarang tapi juga dari luar Jawa. Dia mengaku kadang kala mendapat order merpati ke Kalimantan dalam bentuk karkas beku mencapai 200 ekor dalam sekali kirim.
Supratno memasok merpati untuk warung makan, restoran hingga hotel-hotel berbintang. Harga setiap karkas merpati yang siap diolah sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000. “Bergantung spesifikasi permintaan bentuk fisik dan bobot badan karkas,” jelasnya. Ditambahkan Supratno, untuk keperluan konsumsi sebenarnya yang diinginkan adalah merpati yang masih anakan.
Supratno menyebutkan, bahan baku squab didapatkan dari peternak merpati di sekitar wilayah Semarang. Diantaranya Mranggen, Purwodadi, Magelang, Temanggung, Solo, Boyolali dan Ambarawa. Patokan harga per ekor merpati dengan berat badan berkisar 200 gram – 300 gram adalah Rp 12.500. Sedangkan untuk merpati yang berbobot kurang dari 200 gram, dihargai Rp 10.000 per ekor.
“Sayang, karena pembudidaya merpati potong masih jarang, maka sangat sulit untuk mendapatkan squab,” ujar Supratno. Tak jarang kemudian digunakan merpati afkiran (sudah tua) dari para pemelihara merpati untuk hobi. “Kebutuhan merpati potong banyak diperoleh dari peternak merpati hobi,” imbuhnya.

Pasar Tak Menentu

Langkanya pembudidaya merpati potong menurut Suprapno karena pasarnya yang tak menentu. Misalnya saat liburan dan hari raya, permintaan merpati diprediksi meningkat, namun ternyata tak beda jauh dengan hari biasa.
Sementara, Agus Siswanto peternak merpati hobi beranggapan, kurang menariknya bisnis merpati potong karena kendala pakan yang mahal. “Bayangkan, biaya pakan bisa mencapai 2 – 3 kali lipat dari harga jual, itu belum termasuk biaya jamu-jamu jika dijadikan merpati balapan” ujarnya.Ongkos produksi yang mahal tersebut hanya akan sepadan jika bisa menghasilkan merpati hias atau balap yang bagus. Agus yang juga putra sulung Supratno menyebutkan, di beberapa daerah di Jateng dan Jogja, pernah ada pembudidaya yang menekuni bisnis merpati potong. Tapi kini jarang sekali dijumpai.
Budidaya squab tidak mudah, selain pangsa pasar yang belum jelas juga kendala pakan. Squab, kata Agus, idealnya tidak melebihi umur 1 bulan. Lebih dari itu, nilai jualnya akan menurun. Sementara, apabila pasar lesu, bisa diperkirakan squab di kandang membludak. Akibatnya, biaya pakan jadi membengkak.
Namun bagi pakar aneka unggas dari Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Teysar Adi Sarjana, budidaya merpati sebenarnya tak terlalu sulit. Jenis unggas ini mudah beradaptasi di berbagai tempat dan jarang ditemukan penyakit. Bahkan, sampai saat ini belum ada penyakit yang spesifik pada jenis unggas tersebut. “Salah satu jenis unggas tahan penyakit adalah merpati,” katanya.
Mengenai kendala biaya pakan, menurut Teysar bisa diantisipasi dengan pemberian pakan dari berbagai biji-bijian dan bahan pakan lain yang sesuai kebutuhan nutrisi merpati. “Kebutuhan protein merpati rendah, sekitar 13 – 15 %, sehingga pakannya mudah diganti dengan meramu pakan sendiri sebagaimana pakan ayam atau itik,” jelasnya.

Ras Pedaging

Pemeliharaan merpati (Columba livia) di Indonesia terbagi dalam dua kelompok. Pertama, mereka yang memeliharannya sebagai unggas kesayangan, baik sebagai merpati balap, merpati tinggian, maupun merpati pos. Kedua, mereka yang sengaja memeliharanya untuk tujuan komersial, dalam hal ini peternak.
            Termasuk dalam kelompok kedua antara lain peternak merpati balap, merpati tinggian, dan merpati pos. Lalu, di manakah posisi peternak merpati pedaging ? Sebenarnya mereka termasuk dalam kelompok kedua, tetapi jumlahnya masih belum seberapa.
            Sebenarnya semua jenis/ras merpati bisa dijadikan merpati potong. Yang menjadi persoalan adalah kualitas rasa, tekstur daging, dan laju pertumbuhan bobot badan. Jika ingin beternak, idealnya memilih merpati dari ras pedaging, seperti king, carneau, mondaine, giant homer, dan homer king. Jenis yang disebut terakhir inilah yang terpopuler di Indonesia.
            Merpati king dewasa memiliki bobot standar sekitar 742-857 gram (gr), sedangkan merpati remaja (muda) sekitar 686-780 gr. Namun berat potong ideal sekitar 500-700 gram, dengan lama pemeliharaan sekitar 45-60 hari.
            Otot dada besar, tebal, dan rasanya sangat lezat. Itu sebabnya, merpati king sangat digemari konsumen di luar negeri. Ada beberapa varietas warna bulu, misalnya biru, merah, dan kuning. Hampir semua varietas memiliki ukuran tubuh yang sama.
            Meski namanya giant homer, postur tubuhnya justru lebih kecil daripada ras-ras merpati pedaging lainnya. Tetapi justru karena itulah masyarakat menggemarinya. Apalagi rasa dagingnya juga lezat. Belakangan, merpati king dan giant homer disilangkan, sehingga menghasilkan ras baru bernama homer king. Ras inilah yang banyak dipelihara di Indonesia.
            Anak merpati balap yang disajikan sebagai burung dara goreng rata-rata hanya sekitar 0,25 kg per ekor. Sementara homer king 0,5 kg. per ekor. Daging homer king juga lebih tebal dan lebih lunak. Daging merpati balap kadang kala agak alot dan tipis.
Namun karena pasokan homer king sangat terbatas, maka merpati balap tetap mendapatkan tempat sebagai burung dara goreng di warung lesehan dan chinese food papan bawah. Faktor strata kemampuan ekonomi ini pulalah yang menjadi penyebab terciptanya strata menu burung dara goreng. Sebab harga anak merpati balap, paling tinggi hanya Rp 5.000 per ekor hidup. Sementara anak homer king bisa dihargai Rp 17.500 per ekor hidup. Tingginya harga merpati potong homer king, disebabkan oleh masih sedikitnya peternak yang mengetahui celah bisnis ini.ins